Monday, June 18, 2012

We Love You, Oma...

Masih ingat ceritaku tentang oma? Ya, seorang nenek berkebangsaan iran yang pernah kuceritakan sebelumnya. (kalau belum tahu, baca cerita sebelumnya yah).

Seperti sabtu-sabtu sebelumnya, mulai dari jam 08.00 hingga 11.00 kegiatanku adalah mengajar ngaji di lapas tangerang bersama teman-teman dari rumah Quran. 

Kalau minggu yang lalu oma sendiri yang memintaku untuk mendengarkannya mengaji, kali ini ada pengajar yang lain yang mengajarnya. Biasanya, ketika ia meminta untuk didengarkan bacaan Qurannya, ia akan berkata, "problem?". Maksudnya apakah aku keberatan untuk mendengarkannya atau tidak. Maklum waktu itu aku sedang nyantai menyimak pengajar yang lain memberi materi.

Komunikasi diantara kami memang unik. Hanya mengandalkan gerakan tubuh, entah itu sekedar senyuman, atau sekedar sentuhan tangan dan  tentunya beberapa patah kata. Kata-kata langganan yang sering kami ucapkan, "Sehat...Alhamdulillah...sabar...terima kasih sayang..dan tidak ketinggalan kata cape deh.". Lucu memang...tapi sejauh ini komunikasi kami, oke !.

Sampai dipenghujung pengajian....

Ketika aku sedang berpamitan dengan peserta pengajian, aku melihat beberapa temanku sedang mengelilingi oma. Karena penasaran aku pun menghampiri mereka. Ternyata, disana oma sedang menangis dan teman-temanku berusaha menenangkannya. Sesekali aku mendengar oma mengatakan sesuatu. Tapi, sayangnya...ngga ada satu pun dari kami yang mengerti apa maksud perkataannya itu. Soalnya ia mengatakannya dengan bahasa arab (meskipun ngga yakin juga sih itu bahasa arab atau bukan, yang pasti bahasa negaranya oma).

Huft, sayang sekali...coba aja kalau aku bisa ngerti mungkin bisa sedikit membantu. Ya, walaupun hanya sekedar mendengarkannya curhat. Kemungkinan terbesar, oma kangen dengan keluarganya di iran !! Entah sudah berapa tahun mereka berpisah. Yah, kebayang sih...ngga enak harus memendan rindu apalagi dengan orang-orang yang kita cintai. Nyesek !!! 

Oma, maaf... aku ngga bisa ngerti apa yang oma katakan...
Aku juga tidak bisa mengatakan kata lain yang mungkin akan membuatmu bisa lebih tenang, kecuali kata sabar...
Tapi...setidaknya mudah-mudahan bahuku yang kicil dan kurus ini masih bisa menopang kepalamu sekedar untukmu bersandar ketika kau menangis

Oma...we love you for Allah SWT :)



Tuesday, May 29, 2012

Sebuah Penyesalan

Picture by : Google
"Aduh neng ema nya salah aja yah bacanya ?". Kata ibu yang menyebut dirinya ema itu sambil tersenyum malu-malu. Seperti ada rasa bersalah ketika beberapa bacaan Qurannya harus aku betulkan. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya itu, yang entah sudah berapa kali ia ulang.

"Ngga apa-apa ma...kan lagi belajar", ucapku mencoba memotivasi.
"Iya, yah ngga apa-apa ya neng yah...yang pentingkan mau belajar yah?", timbalnya. 

Anggukan kepala dan seulas senyum kembali ku berikan padanya. Semoga ini bisa meyakinkannya untuk terus mau belajar dan mempelajari AlQuran. Melihatnya, seperti melihat sosok nenekku yang sudah 2 tahun meninggal dunia. Panggilannya pun sama...ema.

"Ayo, ma kita lanjutin! Sedikit-sedikit aja bacanya. Kalau ngga kuat ngga usah dipaksain harus panjang-panjang. Satu ayat bisa dipenggal-penggal menjadi beberapa kali baca kok !", ucapku melanjutkan.

Ema pun kemudian melanjutkan bacaannya. Aku pun kembali dengan seksama menyimaknya. Suaranya memang agak terdengar sedikit serak, tapi cukup merdu. Tajwidnya pun lumayan sudah baik. Hanya saja, keawasan penglihatannya yang memang sudah berkurang, terkadang membuatnya harus mendekatkan matanya ke mushaf sehingga membuyarkan konsentrasinya waktu membaca. Namun, itu semua tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Melihatnya begitu bersemangat, aku pun jadi terpacu !!. Ego ku bilang, "masa aku kalah sama yang udah tua...aku kan masih muda !!!". 

*
Tak terasa, satu 'ain telah terlewati. Berhubung sesi ngaji Qurannya sudah selesai dan akan berganti dengan sesi belajar tajwid, terpaksa...kami pun akhirnya harus mengakhirinya. 

Seluruh peserta pengajian mulai bergeser ke barisan depan. Tapi, si ema...masih duduk dengan posisi yang masih sama ketika kami mengaji. Tadinya aku juga mau ikut beranjak kebarisan depan...tapi, belum sempat bangkit, si ema malah ngajak aku ngobrol.

Singkat cerita, ia bercerita tentang kehidupannya. Kehidupannya mulai dari awal ia menginjakan kakinya ditempat ini. Tempat dimana hak kebebesan seseorang 'ditangguhkan' untuk sementara waktu. 

Sementara waktu ??? Kata yang (mungkin) terdengar ringan, tapi (mungkin juga) akan jauh lebih terasa berat. Apalagi ketika malam-malam pertama terkurung disebuah kamar yang berdindingkan teralis besi...Berat, berat sekali rasanya. Jangankan ikhlas, menyadari kalau kita sekarang berada di tempat yang berbeda dari keseharian saja sudah membuatnya STRESS...!!!. Kata si ema sambil sesekali mengusap sudut matanya yang nampak berair.

Ku lihat ia menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya ia mulai melanjutkan kembali ceritanya. Kini ia bercerita mengenai keluarganya. Ia memiliki seorang suami yang menurutnya sekarang sedang sakit stroke. Ia juga memiliki tiga orang anak, yang dua tinggal di kalimantan dan yang satu ditangerang. 

Menurutnya, kehidupan ekonomi keluarganya yang sempit membuatnya sempat berfikir untuk bunuh diri. Waktu itu, ia berfikir...mati adalah solusi terbaik. Dengan kematian, ia akan terbebas dari (kewajiban) memikirkan hal-hal yang membuat kepalanya pusing. 

"Ah, neng...pokoknya dulu kelakuan ema ngga karu-karuan. Ngerokok aja sehari bisa sampe 4 bungkus !!!. Jangankan sholat, inget aja ngga...tapi sekarang, ema pengen tobat !!! Ema nyesel, dulu ngga pernah mau belajar baca Quran...eh, sekarang pas mata aja udah ngga jelas, kuping aja udah kurang denger, baru aja ada keinginan..telat ya neng?", ujarnya dengan nada penuh sesal.

"Ngga lah ma...ngga ada kata telat kalau buat belajar.", jawabku.

Sebenarnya dari awal aku ngobrol sama si ema, ada satu pertanyaan yang terus melayang-layang dibenaku. Ingin rasanya aku menanyakannya. Tapi, agak ngga enak...takut tersinggung. Beberapa kali aku tahan untuk tidak bertanya satu hal ini, cuma...emang karena udah penasaran akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya. Aku bertanya kenapa ia sampai ada di tempat ini.

Mendengar pertanyaanku itu, si ema cuma tersenyum. Tergambar jelas keberatan diwajahnya. Haduh, jadi merasa bersalah deh...Belum sempat ia menjawab, aku langsung segera minta maaf.

"Ma, ngga usah dijawab...maaf nanya itu",ucapku menyesal.
"Ngga apa-apa neng...cuma ema kalau ada yang nanya gitu, suka bingung jawabnya. Udah ngga pingin inget. Yang sekarang ema pikirin, cuma gimana caranya supaya ema bisa tobat...itu aja."
"Emang ema udah berapa lama disini?", tanyaku lagi.
"Baru beberapa bulan. Ema kan belum sidang, neng! Tapi, ah, ema udah ngga peduli..mau dihukum berapa lama juga ema udah ikhlas...suami ema di rumah kan juga ada yang ngurus anaknya. Ema disini mau ibadah aja...malah pernah nih ya neng, waktu pertama masuk sini kan kuping ema masih normal, terus dikamar orang-orang pada ngegosip aja. Ema sebenernya ngga mau denger, tapi kedengeran. Tapi yah ema terusin  aja dzikirnya, sambil dalam hati minta ke Allah...supaya ema ngga dibuat bisa denger gosip. Eh, Alhamdulillah...sekarang kuping ema jadi kurang denger! jadi, kalau orang-orang pada ngegosip, sekarang ema bisa tenang aja dzikirnya, soalnya kan ngga kedengeran apa-apa." Ujarnya sambil sesekali tertawa menceritakan pengalamannya.

Subhanallah...mendengar ceritanya bener-bener buat aku bengong. Ada yah orang yang malah minta diambil nikmat pendengarannya hanya karena ingin terhindar dari perkara maksiat. Hmm...bukan perkara mudah !!!*khususnya buat aku.

**

Alhamdulillahirabbil'alamiin. Satu lagi, pelajaran dari-Mu ya Allah....Semoga ini bisa membuatku semakin ingin mendekat pada-Mu. Seperti keinginan ema yang juga ingin lebih dekat lagi dengan-Mu. Terima kasih juga buat ema (yang ngga ku ketahui namanya) yang sudah mau berbagi pengalaman denganku, semoga Allah membimbingmu... 

"...Rabbana milladunka Rahmatawwahayyi'lana Min Amrina Rasyada" (Al-Kahfi :10)
...Ya Rabb, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk jalan yang lurus dalam urusan kami.

Amiin Yaa Rabbal'alamiin

***

Ya Rabb...mungkin inilah bukti dimana cinta-Mu telah menyapa. 
Tiada keindahan yang bisa melebihi indahnya kebersamaan bersama-Mu. 
Tiada ketentraman yang bisa melebihi tentramnya disisi-Mu
Tiada kenyamanan yang bisa melebihi nyamannya berada di dekat-Mu
Dan Tiada kebahagiaan yang bisa melebihi bahagianya mendapat kasih-Mu

YaAllah...kuatkan iman kami yang masih lemah ini
Luruskan niat kami semata-mata hanya karna-Mu
Bulatkan tekad kami semata-mata hanya untuk-Mu
Tiada daya dan upaya, kecuali hanya karna Kekuatan dari-Mu


-20 Mei 2012-

Wednesday, May 2, 2012

Sebuah Kejujuran

Picture by : Google
Hari ini, hari terakhir adiku selesai UN. Seperti 3 hari sebelumnya, aku selalu menyempatkan diri untuk meneleponnya. Sekedar untuk menanyakan bagaimana ujiannya dan mengingatkan kembali tentang apa yang harus ia persiapkan. Maklum, adiku agak sedikit teledor. Seringkali ia menyepelekan hal-hal seperti alat tulis, tapi yang ahirnya malah jadi repot sendiri. 

Kalau 3 hari sebelumnya aku slalu mendengar suaranya yang antusias dan optimis setiap kali aku tanya, "bisa ngga ngerjain soalnya?". Tapi hari ini terdengar berbeda. Merasa penasaran, pelan-pelan aku coba bertanya. Ternyata, tadi, sebelum aku meneleponnya, Bapa sudah bertanya duluan padanya. 

Adikku bilang, tadi bapa tanya gimana ujiannya, pasti hasilnya bagus ya..?. Kata 'pasti' itulah yang ternyata bikin adikku merasa sedikit takut, kalau ternyata kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Ia takut kalau mengecewakan orangtua.

Sekilas ku dengar suara adikku mulai terdengar lebih berat. Seperti yang menahan tangis. Sebisa mungkin aku becandain dia, supaya lebih rileks. Buat menenangkannya aku cuma bilang, "mbi (panggilan adiku) udah berusaha maksimal, sekarang tinggal maksimalin berdoanya sama Allah..tawakal dan minta yang terbaik. Ngga usah takut".

"Tapi teh, temen-temen mbi yang lain dapat contekan...mereka dikasih kunci jawabannya. Mbi juga dikirimin sms, tapi mbi hapus...mbi ngga mau !!!", suaranya agak sedikit emosi. Mungkin nahan rasa kesel.

"Kenapa ngga mau?", pancingku lagi.

"Ya buat apa teh...ujian tapi masih ngga jujur. Mbi cuma kesel aja. Nanti gimana coba teh kalau yang pada nyontek nilainya pada bagus, terus hasil ujian mbi jelek"

Mendengar itu semua, aku cuma bisa tersenyum. Sebersit perasaan senang tersirat dihati. Aku tahu benar bagaimana perasaannya sekarang. Karena aku pun pernah merasakannya. 

Ku coba menenangkannya. Meyakinkannya kalau insyaAllah semua akan baik-baik aja. Pokoknya kita ikuti aja yang menurut Allah benar...kalau disuruh jujur, ya jujur...semua pasti kembali pada diri kita. Nilai bagus itu memang penting, tapi nilai akhlak yang bagus itu akan jauh lebih penting.

Pendidikan tidak hanya semata-mata dibuktikan dengan deretan nilai yang 'istimewa' di ijazah, tapi lebih dari itu...Pendidikan juga harus bisa membentuk pribadi yang baik. Baik dimata manusia apalagi dimata Allah SWT.

Alhamdulillah...setelah kujelaskan, ia mulai tenang. Semoga ini akan tertanam terus didalam lubuk hati dan pikirannya. Dan bisa direalisasikan dengan perbuatan nyata. Amin.

Ya Allah...mudahkanlah bagi kami untuk menjalankan apa yang Engkau dan Rasul-Mu perintahkan dan mudahkan pula bagi kami untuk menjauhi apa yang Engkau dan Rasul-Mu larang. Bantu kami Ya Rabb... 

**

Masa dimana nilai sebuah kejujuran sudah segitu mahalnya
Bahkan hanya untuk sekedar mengisi nilai ijazah
Yang jujur dipertanyakan
Yang palsu diagung-agungkan

Huff....mau dibawa kemana dunia ini ??? 

Ya Allah...
Kuatkan iman dan islam kami. Tancapkan ia kuat-kuat di hati kami...
Jangan pernah goyah, jangan pernah ragu
Karena ada Kau yang slalu tahu...

Amin


Monday, April 30, 2012

Ajari Aku Mencintai-Mu

Picture by : Google
Sosoknya sederhana. Tidak ada sedikitpun kesan mewah dari penampilannya. Tapi dibalik kesederhanaannya itu, ada kebersahajaan yang tersirat di wajahnya. Tenang...pokoknya ngademin !! Cara ia bicara simple, tapi penuh makna dan benar-benar terasa bertenaga. 

Sebentar berkomunikasi dengannya, sekilas dapat aku simpulkan, pemahaman agama islamnya cukup luas. Awalnya aku berfikir, kalau gadis berkerudung biru muda itu lulusan pesantren yang sudah bertahun-tahun. Tapi, aku justru dibuat terkaget-kaget, setelah ku tahu ternyata, panggil saja ia Sharah, si gadis berkerudung biru muda itu adalah seorang mualaf. Sharah baru memeluk islam sekitar 1,5 tahun yang lalu. 

Secara bilangan tahun, mungkin sharah masih terbilang baru dengan islam...tapi melihat pemahamannya akan islam dan bagaimana ia mencoba menerapkan ajaran itu dalam kesehariannya, membuatku merasa salut sekaligus iri...Iri karena melihat dia yang bisa anteng dengan ibadah-ibadahnya. 

Ada perasaan malu terbersit di hati ini...malu karena aku yang merasa sudah menjadi muslimah sejak lahir tapi malah rasanya masih belum aja bisa total. Masih anyang-anyangan... :(

**

Mendengarkan kisahnya dari awal sampai ia menemukan cahaya dan akhirnya memutuskan untuk memeluk keyakinan ini, membuatku merinding. 

Penentangan dari orang tua, keluarga besar bahkan teman-teman dekatnya, tak ayal membuatnya tetap berusaha teguh akan keyakinannya ini. Ada perasaan sedih karena dijauhi orang-orang yang sangat ia cintai...Tapi semua itu ia jalani dengan terus berusaha ikhlas dan lebih menganggapnya sebagai ujian dari Allah swt.

Ada satu kalimat yang tak bisa aku lupakan darinya, "Aku memang merasa sedih harus jauh bahkan dijauhi oleh orang-orang yang aku cintai...tapi aku akan jauh merasa lebih sedih jika aku harus jauh lagi dari Allah swt..".

Deg...jantungku terasa langsung berhenti. Segitu cintanya ia dengan apa yang ia yakini sekarang. Subhanallah !!!

Ya Allah...segitu indahnya ketika Kau telah menghujamkan rasa cinta dihati...Cinta tulus pada-Mu
Hmm...satu lagi pelajaran yang Kau sampaikan padaku melalui hamba-Mu yang lain. Semoga akupun bisa mencintai-Mu dengan tulus, semata-mata hanya meraih Ridho-Mu.

Dengan segala kebodohan dan ketidakmengertianku tentang cinta...
Maka tolonglah aku yang Rabb...
Ajari aku bagaimana cara mencintai-Mu.. 

*Penghujung 2011

Monday, April 16, 2012

Berkunjung ke 'Pesantren Jiwa'

Tidak seperti hari biasanya, jam 04.00 subuh aku sudah mandi, malah udah siap berangkat! Sambil nunggu adzan subuh, aku cek kembali semua perlengkapan yang akan ku bawa. Mukena, al-quran, handbody dan lipbalm. Ngga ketinggalan dompet dan hp juga sudah masuk ke dalam tas. Jam 05.30 aku sudah keluar kosan. Pintu gerbang masih digembok, tapi bukan masalah...aku kan punya kunci sendiri :-)

Jalanan masih sepi. Lumayan masih bisa menghirup udara Jakarta yang 'agak seger dikit'. Dari jiung, aku naik mikrolet 53 sampai galur. Dari situ, aku nyambung naik busway jurusan kalideres. Entah karena masih pagi atau karena hari sabtu, tapi yang jelas jalanan lancar!!! Udah lancar, dapat duduk pula...gimana ngga seneng coba, jadi bisa lanjutin tidur :-D. 

Janjian jam 08.00 dilokasi. Ternyata jam 07.00 aku sudah sampai di perempatan modernland, tangerang. Celingak celinguk sambil nyari-nyari alamat tempat yang dimaksud. Kayanya sih kelewatan nih !, pikirku. dan memang bener, ternyata alamat yang ku cari memang agak kelewat. Untung aja ngga terlalu jauh.

Ini kali pertama aku menginjakan kaki di daerah tangerang. Bermodal info dari seorang temen kantor, ahirnya aku bisa nyampe juga ke tempat ini, meskipun belum tahu pasti alamat jelasnya. Tapi sejauh ini, cukuplah!

Hari ini aku janjian sama temen (dari Rumah Quran Daruuttarbiyah, Depok) untuk membantu mengajar (mungkin lebih tepatnya sharing dan sama-sama belajar) baca quran di lapas wanita (baca : pesantren kehidupan), tangerang. Ahaa, satu lagi pengalaman berharga sekaligus pelajaran baru dari Allah buatku akan segera dimulai...

~

Ingat sekaligus tertarik oleh sebuah hadist riwayat Imam Bukhari, yang berbunyi Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya". Ibarat gayung bersambut, niatku untuk MLM kan ilmu pun dikabul sama Allah...Terima kasih ya Rabb buat kesempatannya :-)

**

Sesampainya di sebuah taman, tepatnya di halaman depan...ku lihat ada 5 orang perempuan berpakaian seragam berwarna biru dongker yang sedang menyapu. Selain itu, aku lihat juga 3 orang perempuan lainnya dengan pakaian batik rapi berdiri sambil mengamati kelima perempuan tadi.

Kulihat jarum jam, baru nunjukin jam delapan kurang. Temen-temen juga belum pada datang. Untung ada kursi kosong, jadi bisa nunggu sambil baca-baca buku. Selain kedelapan perempuan tadi, disana juga ada beberapa orang yang lagi sarapan. Ya, ada beberapa pedang makanan disitu. Ada tukang lontong kari, tukang bubur, sampai tukang laksa. Haaa...andai aja aku belum sarapan, aku pengen nyobain laksanya, tapi perut dah kenyang!!!. Kapan-kapan aja deh.. :-(

~

Sekitar jam 09.15...hp ku bergetar. Ada sms masuk. Ternyata teman-temanku sudah menunggu di depan gerbang utama pesantren kehidupan. Pertemuan pertama...dengan teman baru, tempat baru dan petualangan baru tentunya...menyenangkan!!! Semua karna Allah, Dia yang mengatur semua ini...

Sebelum masuk, tangan kami di stempel (kaya mau masuk dufan..he) dan di beri nametag bertuliskan 'TAMU'. Ada beberapa pintu yang harus kami lewati sebelum menuju ke ruang pengajian. Masuk ke bagian dalam, terlihat halaman yang hijau, bersih pula. Ada beberapa gazebo di tengah tamannya.

Hampir semua 'santri' terlihat disibukan dengan berbagai aktifitas. Mulai dari yang latihan baris berbaris, masak, bikin kerajinan tangan dan tidak ketinggalan jadwal pengajian. Untuk pengajian baca quran di mulai dari jam 08.00 sampai dengan jam 11.00. Setelah itu, dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah agama dari seorang ustadz.

~

"Assalamu'alaikuum...", ucap ku dan teman-teman ketika memasuki sebuah ruangan yang terbilang luas itu.
"Wa'alaikumsalam...", serempak ibu-ibu yang ada dalam ruangan itu pun menjawab sapaan salam kami, lengkap dengan senyum ramahnya.

Ada sekitar enam orang ibu-ibu di ruangan itu. Mereka rupanya sedang belajar mengaji. Posisi mereka saling berhadapan di sebuah meja panjang membentuk huruf L. Yang satu membaca quran dan yang satunya lagi mendengarkan sambil sesekali membenarkan bacaan temannya yang sedang mengaji.

Tidak begitu lama, kami pun saling membaur. Lama kelamaan ibu-ibu itu pun semakin bertambah. Ruangan yang tadinya kosong, kini mulai terasa sedikit 'ramai' dengan obrolan khas ibu-ibu.

Satu persatu ibu itu pun menghampiri kami yang juga duduk 'ngedimprek' di lantai, menunggu mereka yang sudah siap untuk menyetorkan bacaan Qurannya. Perlahan suara 'ramai' tadi pun berubah menjadi suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Meskipun tidak seragam 'alunan'nya, tapi sudah cukup membuat ruangan ini terasa lebih tentram.

Ada beberapa ibu yang masih terbata-bata ketika membacanya, tapi banyak juga yang sudah lancar...tinggal penerapan tajwidnya saja dan ditambah sering latihan. Tapi, satu yang membuatku salut, semangat mereka untuk belajar...2 tumbs up for them!!! Melihat mereka seperti itu, aku pun semakin bersemangat untuk terus belajar dan mengamalkannya...Ya Allah, indahnya bisa berbagi !!!

Dibalik kekagumanku, terlintas sebersit pertanyaan, "kok bisa yah mereka disini?". Sepanjang pengamatanku dan selama berinteraksi dengan mereka, aku tidak merasa ada kesan yang 'berbeda' dari mereka. Wajah-wajah mereka terkesan teduh, cara bicaranya pun cukup wajar...Ada niatan untuk bertanya, tapi aku urungkan. Sudahlah...biar itu menjadi rahasia mereka. Kalaupun nantinya mereka bercerita tentang masa lalunya, itu karena keinginannya sendiri. Yang terpenting, mereka yang sekarang bisa lebih baik dari mereka yang dulu...Mungkin keberadaan mereka disini menjadi salah satu cara Allah untuk mengembalikan mereka untuk kembali ke jalan-Nya. Amin.

~

Ummi, begitu aku memanggilnya. Ia seorang ibu berusia sekitar 50 tahunan. Ummi adalah peserta terakhir   pengajian kali ini. Tepatnya, yang belajar bareng aku. Sambil menunggu peserta lain yang masih mengaji, kami larut dalam sebuah perbincangan. Ia banyak bercerita tentang keluarga dan pengalamannya selama di 'pesantren'.

Menurutnya, kehidupan diluar memang jauh lebih enak ketimbang harus berada disini. Disini, kita benar-benar dididik untuk belajar ekstra sabar...lebih tepatnya, dilatih untuk mengendalikan nafsu amarah. Apalagi ketika ada masalah dengan teman satu kamar. Menghindar? itu jelas tidak mungkin...semungkin mungkinnya, hanya beberapa jam selama kegiatan di siang hari.

Bagi ummi sekarang (dan semoga seterusnya), Allah lah satu-satunya tempat ia mengadu, berkeluh kesah sekaligus meminta kekuatan. Terkadang, ia merasa tidak kuat mendengar omongan orang. Hatinya panas...sekali lagi, ia masih beruntung ada Allah yang mendinginkannya...Oya, kata ummi, insyaallah tahun ini dia bisa keluar. Mudah-mudahan dilancarkan jalannya dan diberi kehidupan yang lebih baik...Amin.

Semoga pesantren ini bisa membawa dampak positif untuk siapapun yang terpaksa harus 'nyantri' disini. Hmm...akan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian dan semoga kejadian ini membuat kita semakin dekat pada-Nya...semakin kuat lagi pada tali agama-Nya...

"Allahumma yaa muqollibalquluub tsabitqolbi 'aladiinik...Ya Allah yang membolak balokkan hati, tetapkanlah hati kami pada agama-Mu"

***

Ya Allah...
Ada saja cara-Mu menyayangi kami
Ada saja cara-Mu menarik kami yang telah jauh dari-Mu untuk kembali
Ada saja cara-Mu mengajari kami tentang sebuah arti

Ya Allah...
Terima kasih untuk cinta kasih-Mu
Terima kasih untuk segala perhatian tulus-Mu
Terima kasih untuk semuanya

Ya Allah...
Beri kami waktu untuk lebih mengenal-Mu
Beri kami petunjuk untuk menelusuri jalan-Mu
Beri kami kesempatan untuk berada didekat-Mu

Ya Allah...
Menggapai cinta-Mu, itu harapan kami
Meraih Ridho-Mu, itu keinginan kami
Mendapat tempat disisi-Mu, itu kehormatan bagi kami

~

Dari mereka aku belajar banyak hal. Mulai dari pengendalian amarah, kesabaran, keikhlasan, hingga rasa bersyukur...terima kasih Ya Rabb, untuk pelajaran hari ini :-)

* 14 April 2012

Tuesday, January 31, 2012

Wajah dibalik wajah

picture by : google
Tidak ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Sebelum berangkat kerja, supaya lebih yakin dengan 'tampilan' pasti nengok dulu ke benda yang satu itu...kaca. Rasanya belum afdol kalau ngga ngeliat benda yang satu itu. Entah karena kebiasaan, sugesti atau barangkali sudah jadi candu?

Memang tidak ada yang salah dengan kegiatan 'ngaca' yang sehari entah berapa kali kita lakukan itu. Tapi, pernah ngga kepikiran, kalau wajah yang kita lihat di cermin itu...wajah yang setiap harinya kita elus-elus, kita bedakin, kita olesin macam-macam krim agar tanda-tanda penuaannya tidak terlihat...pokoknya wajah yang selalu kita rawat sedemikian rupa, sampai terkadang kita tidak memikirkan berapa rupiah budget  yang harus dikeluarkan demi terlihat 'kinclong' ini, akan sama dengan wajah yang akan kita pakai untuk menghadap Sang Pencipta? Apakah benar itu wajah kita yang sebenarnya?

Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dipikiranku. Sejenak diam, dan mencoba menjawabnya...tapi ternyata aku juga tidak bisa jawab. Malah balik bertanya, "emang iya yah ini wajahku?". Antara yakin dan tidak...

Tidak ada yang tahu pasti bagaimana wajah kita yang sebenarnya kelak...Bukankah nanti wajah kita itu akan sesuai dengan amal perbuatan kita waktu di dunia? Kalau begitu....*jawab sendiri-sendiri

**

Semoga, wajah yang kini kita lihat dibalik cermin itu, kelak akan menjadi wajah yang lebih cantik, lebih tampan... sehingga nanti kita tidak akan merasa malu pada saatnya pertemuan dengan Sang Khaliq.Amin

Yuk ah...mulai sekarang, selain kita rawat wajah ini, kita rawat juga wajah dibalik wajah. Supaya kinclongnya luar dalam alias lahir bathin...Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin :)